Rabu, 23 Desember 2009

Persahabatan, Cinta dan Perjuangan

DATA BUKU :
Judul buku : Maryamah Karpov
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Halaman : xii + 504 hlm
Cetakan : Pertama, November 2008
Peresensi : Farichatul Jannah

Tak heran jika kekuatan cinta mampu membuat insan di bumi ini melakukan hal-hal “sinting” di mata orang-orang sekitar, karena pada novel Maryamah Karpov ini kita akan temukan bahwa masih banyak keajaiban cinta di dunia. Novel ini menceritakan usaha Ikal seorang tokoh sentral di dalam Tetralogi Laskar Pelangi untuk menemukan cintanya, A Ling seorang gadis yang telah membuatnya berkelana mengelilingi Eropa hingga Afrika. Setelah melanglang buana ke sana ke mari tanpa pernah menemukan petunjuk keberadaan A Ling, rupanya Ikal tak pernah putus asa, ia terus mencari dan mencari belahan jiwanya itu.

Pada awal novel diceritakan secara flashback kenangan masa kecil Ikal bersama keluarga di Belitong. Ayahnya yang pendiam tapi penuh kasih kepada keluarganya nampaknya memiliki porsi yang istimewa di buku ini. Sosok ayah ini pula yang menginspirasi Ikal untuk tidak menyerah pada nasib bahkan melecut semangatnya dalam mewujudkan mimpi-mimpi. Hingga saat-saat terakhir Ikal menyelesaikan studinya di Perancis dan perjalanan kembali ke tanah air, kembali ke kampung halaman dan berbaur dengan kultur nenek moyangnya. Serasa menemukan kembali mozaik-mozaik kenangan lama.

Yang paling mengesankan adalah pertemuan kembali dengan teman-teman lamanya yang tergabung dalam Laskar Pelangi. Mereka kini telah tumbuh dewasa dan masing-masing telah menemukan hidupnya. Para sahabat Laskar Pelangi ini tak pernah pergi ke mana-mana, namun mereka telah menemukan hidup bahkan cinta sekaligus. Tapi sayang bagi Ikal yang telah mencapai sudut-sudut dunia merasa tak menemukan yang ia cari, tak juga cintanya. Setelah belasan tahun berlalu, persahabatan mereka tetap abadi bahkan dalam setiap kesulitan yang dihadapi Ikal, sahabat-sahabatnyalah yang akan selalu ada untuk-nya.

Hingga suatu saat titik terang keberadaan A Ling mulai nampak ketika seorang nelayan menemukan sejumlah mayat mengambang di laut. Tanda fisik berupa tato kupu-kupu hitam di tubuh mayat mengingatkan Ikal pada sosok kekasihnya itu yang ternyata memiliki tanda serupa. Berdasarkan analisa dan insting maka sampailah Ikal pada sebuah dugaan, A Ling berada di Pulau Batuan, sebuah gugusan pulau-pulau kecil yang sangat strategis bagi para pendatang haram untuk menyeberang ke Singapura. Di sekitar pulau inilah berkuasa para bajak laut yang terkenal bengis dan tak segan mencabut nyawa orang. Bukan perkara mudah untuk mencapai Pulau Batuan karena tiada satu pun perahu nelayan yang berani melaut ke sana, tidak juga untuk sekadar mendekati. Satu-satunya cara adalah membuat perahu sendiri, tetapi mungkinkah itu?

Namun bukan Ikal namanya kalau gampang menyerah. Demi A Ling, apa pun dan siapa pun tak akan mampu menghalangi tekadnya yang telah membatu itu. Dari sinilah, kesulitan demi kesulitan menghadangnya, bahkan tak sedikit orang-orang di sekitar mencapnya sinting. Ikal menghadapi sebuah pertaruhan besar dan bertekad untuk memenangkannya. Sekali lagi pertolongan dari sahabat sejati terutama Lintang dan Mahar yang membuatnya lolos dari kesulitan-kesulitan itu. Lintang yang jenius dalam ilmu eksakta, Mahar yang kreatif dan memiliki imajinasi luar biasa dalam memecahkan persoalan-persoalan pelik. Kedua sosok jenius itu secara cerdas ditampilkan oleh Ikal ketika keduanya membantu Ikal dalam membuat perahu saat ekspedisi pencarian A Ling

Tidak sampai di situ perjuangan Ikal untuk mendapatkan cintanya, Ikal yang Melayu dan beragama Islam, sementara A Ling yang Cina dan berkeyakinan Konghucu, adalah dua kekuatan cinta yang harus berhadapan dengan kekuatan budaya yang melingkupinya. Dapatkah keduanya dipersatukan? Halaman terakhir novel Maryamah Karpov sungguh mengharukan ketika Ikal memohon ijin kepada Ayah yang sangat dihormati setiap keputusannya, untuk dapat meminang A Ling.

Bukan hanya perjuangan cinta Ikal pada Aling disini yang sarat akan pesan positif bagi kita, namun banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dari novel ini, persahabatan, perjuangan dan cita-cita, novel ini pun menggaris bawahi bahwa kita tak boleh takut untuk bermimpi. Tiada sesuatu hal yang mustahil dilakukan asal dilakukan dengan tekad baja dan semangat pantang menyerah, Tuhan selalu beserta para pemberani. Meski sebenarnya tak dapat dipungkiri harapan atas imajinasi yang sudah terbangun pada awal memnemukan novel ini, di kepala menjadi berantakan karena sosok dan suasana tentang Maryamah Karpov tidak ditemui dalam novel setebal 504 halaman itu. Sosok Maryamah Karpov hanya sekelebat saja dijelaskan sebagai Makcik Nurmi, gadis yang piawai memainkan biola di warung kopi. Gadis yang sedang memainkan biola pada sampul novel Maryamah Karpov adalah Nurmi, bukan Maryamah Karpov itu sendiri.

0 komentar:

Search

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Komunitas Blogger

Blogger Reporter Indonesia



Fun Blogging


Warung Blogger


BloggerCrony Community

Karya Buku





Arsip Blog

Cuit-Cuit Yuk!