Kamis, 07 April 2016

Sejarah Tradisi Ceng Beng

MAKNA dari tradisi Ceng Beng adalah menghormati arwah para leluhur dengan cara melakukan ziarah dan mendoakannya. Sebelumnya, umat Tionghoa akan melakukan bersih-bersih makam, seperti mencuci bangunan makam hingga terlihat bersih dan cerah, dan mengecat kembali bangunan makam sekaligus aksara batu nisan.

Menerbangkan Lampion dan Harapan Ceng Beng 2016

Bersih-bersih makam sudah bisa dilaksanakan 10 hari sebelum puncak perayaan acara Ceng Beng. Untuk tahun ini khususnya di Pangkalpinang, Pemakaman Sentosa, puncak perayaan Ceng Beng jatuh pada 4 April 2016 pukul 03.00-06.00 WIB. Sesudah puncak acara Ceng Beng pun warga Tionghoa beberapa hari ke depan masih bisa berziarah dan berdoa ke makam.

Tradisi Ceng Beng selain sebagai tanda bakti amal seorang anak kepada orang tua sekaligus ajang silaturahmi dengan sanak keluarga dan saudara yang lama tidak bertemu. Mereka percaya, selain berziarah, berdoa dan silaturahmi melakukan tradisi Ceng Beng semoga selalu dilancarkan usahanya dan mendatangkan kesehatan. Tak mengherankan banyak peziarah datang dari luar kota Pangkalpinang, kota-kota lain yang ada di Indonesia bahkan luar negeri.

Ziarah kubur atau tradisi Ceng Beng konon berasal sejak zaman kekaisaran Zhu Yuanzhang (1328-1398 M), pendiri Dinasti Ming (1368-1644 M). Menurut literatur sejarah sedikitnya ada tiga versi, tapi menurut saya ini yang paling kuat dan diyakini banyak masyarakat Tionghoa. Zhu Yuanzhang berasal dari keluarga yang sangat miskin. Karena itu, dalam membesarkan dan mendidik, orangtuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil.

Kaisar Zhu Yuanzhang Credit: Wikipedia

Ketika dewasa, Zhu Yuanzhang memutuskan bergabung dengan Sorban Merah, sebuah kelompok pemberontak anti Dinasti Yuan (Mongol).

Berkat kecakapannya, dalam waktu singkat, ia pun mendapatkan posisi penting dalam kelompok tersebut. Kemudian menaklukkan Dinasti Yuan (1271-1368 M) sampai akhirnya Zhu Yuanzhang diangkat menjadi seorang kaisar.

Sosok Zhu Yuanzhang adalah seorang kaisar yang sangat membenci para pejabat kerajaan yang korup selama memerintah sebagai kaisar. Sudah tidak terhitung berapa pejabat yang dihukum dan dieksekusi secara masal.

Setelah menjadi kaisar, Zhu Yuanzhang kembali ke desa untuk menemui orangtuanya. Namun, ternyata orangtuanya telah meninggal dunia, dan makamnya tidak diketahui keberadaannya.

Untuk mengetahui keberadaan makam orangtuanya, sang kaisar Zhu Yuanzhang memberi titah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah, dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan.

Zhu Yuanzhang juga memerintahkan rakyatnya menaruh kertas kuning di atas masing-masing makam sebagai tanda makam telah dibersihkan.

Setelah semua rakyat selesai berziarah, kaisar Zhu Yuanzhang memeriksa makam-makam yang ada di desa dan menemukan makam-makam yang belum dibersihkan serta belum diberi tanda. Kemudian, Zhu Yuanzhang menziarahi makam-makam tersebut.

Sang kaisar berasumsi, di antara makam-makam tersebut pastilah merupakan makam orangtuanya, sanak keluarga, dan leluhurnya. Hal ini kemudian dilaksanakan setiap tahun dan turun temurun hingga kini. ● Dede Ariyanto

Foto-Foto Lainnya:
Lilin Berjejer Rapi di depan Pemakaman Sentosa

Persembahan di Persembahyangan Paithin Pemakaman Sentosa

Salah Satu Makam di Pemakaman Sentosa

Fajar Pagi di Pemakaman Sentosa

2 komentar:

  1. Wah...komplit banget sejarahnya, jd tau nih. Itu buah2annya dimakan nggak ya mas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih. Dimakan seusai acara. 😀

      Hapus

Terimakasih sudah turut berpartisipasi di blog ini dengan cara menulis komentar. Komentar yang berisi iklan, sara, pornografi dan spam terpaksa dihapus! :)

Search

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Komunitas Blogger

Blogger Reporter Indonesia



Fun Blogging


Warung Blogger


BloggerCrony Community

Karya Buku





Cuit-Cuit Yuk!