Kamis, 22 Oktober 2015

Diskusi Fasilitas Publik Bagi Masyarakat dan Sampah

Jakarta - Kamis, (22/10/2015), telah diselenggarakan diskusi bareng netizen dan media yang mengangkat tema “Peran Masyarakat Sipil Dalam Pencapaian Pola Konsumsi dan Produktifitas Berkelanjutan” bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Narasumber bapak Noer Adi Wardojo saat menyampaikan materi
 
Fasilitas publik seperti stasiun, terminal, toilet dan fasilitas publik lainnya kadang tak terawat dengan baik bahkan kondisinya memprihatinkan. Bukan karena petugas perawatan juga dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat umum yang tidak merasa memiliki. “Ayuk kita lakukan perbaikan di fasilitas publik. Di masyarakat publik masyarakat mendapat pelayanan yang terbaik,” ajak bapak Noer Adi Wardojo.

Dalam diskusi tersebut, kementerian berencana membangun 11 fasilitas publik lain pada 2019 nanti. Kementerian pun bersedia mendengarkan fasilitas publik apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat melalui diskusi ini.

Dilanjutkan oleh pembicara kedua oleh ibu Agnes tentang pemilihan sampah. Tak semua sampah itu sampah. Ada sampah yang memiliki nilai. Ibu Agnes menjelaskan "Sekarang itu, banyak orang berburu sampah karena sampah itu mempunyai nilai. Sehingga sekarang ini banyak orang berburu sampah."

Produsen yang notabene sebagai penghasil produk tak seharusnya menutup mata tentang sampah hasil produksinya. Bagaimana pun juga sedikit banyak hasil produk tersebut pasti menghasilkan sampah. Maka produsen memiliki kewajiban dalam pengolahan sampah.

Tak hanya itu, kementerian juga mendorong agar produsen lebih memilih menggunakan material bahan kemasan yang ramah lingkungan (sustainable packaging).

Sampah juga menjadi tanggung jawab bersama. Sebagai konsumen, masyarakat dituntut untuk memulai gaya hidup yang ramah lingkungan. Seperti selalu membawa kerajinan tas yang terbuat dari sampah plastik. Selain sebagai kampanye mengajak orang lain agar perduli dengan sampah juga mengurangi penggunaan plastik saat mendadak ingin belanja. Dengan demikian bisa mengurangi sampah jika dikalkulasi dalam jumlah banyak, ini yang banyak orang tidak sadari.

Ahmad Nur Hasyim, wartawan Tempo yang menjadi narasumber ke-tiga mengawali meterinya tentang sampah industri dengan perbandingan antara kota Jakarta dan kota maju di dunia seperti Rusia dan Singapura. "Negara Cina saat ini menjadi sampah elektronik terbesar di dunia," paparnya.

Menurut mas Ahmad, saat ini sampah elektronik dipandang sangat mengkhawatirkan akan tetapi sayangnya yang menulis tentang sampah elektronik di Indonesia jarang ditulis tetapi di luar negeri menjadi perhatian khusus.

Secara keseluruhan acaranya menarik, menghadirkan tiga narasumber yang kompeten di bidangnya dan dihadiri kurang lebih 50 peserta blogger terpilih dan media acara diskusi berjalan cukup santai.

0 komentar:

Search

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Komunitas Blogger

Blogger Reporter Indonesia



Fun Blogging


Warung Blogger


BloggerCrony Community

Karya Buku





Arsip Blog

Cuit-Cuit Yuk!