Sabtu, 09 April 2016

Suryanto Hermawan, Meski Masih Hidup Tapi Sudah Membuat Makamnya Sendiri

SIAPAPUN pasti tersinggung jika ditanya perihal kapan meninggal dunia, tapi tidak untuk bapak yang memiliki nama lengkap Suryanto Hermawan (52). Dirinya siap dan pasrah kapan pun dijemput maut. Tidak hanya siap menghadapi kematian, bahkan sudah membangun makamnya sendiri di Pemakaman Sentosa, Pangkalpinang, sejak 20 tahun lalu.

Sosok Suryanto Hermawan

Ini yang membuat saya tertarik melakukan wawancara dengannya. Pak Suryanto mengaku, awal mula membangun makamnya sendiri sejak ditinggalkan oleh istri tercinta pada 17 Maret 1996. Sejak saat itu, dirinya langsung memesan lahan makam untuk diri sendiri tepat bersebelahan atau di samping makam istri tercinta. Tiga hari setelah memesan lahan kemudian membangun bangunan makam yang sudah siap diisi dengan peti jenazah nanti kelak ia meninggal dunia.

Saat itu, pak Suryanto tidak ada pemikiran negatif apapun seperti takut lahan di samping makam istrinya diambil orang. Saat itu yang terbesit dalam pikirannya hanya keinginan bersebelahan dengan makam istri, agar kelak anak dan keturunannya mudah berdoa atau sembahyang di makam leluhurnya karena masih satu tempat tidak terpencar jauh. "Jadi, begitu istri saya meninggal, saya langsung pesen di sebelah makam istri. Habis itu hari ketiga, saya langsung bangun (makam) di pinggirnya untuk pemakaman saya nanti,” katanya.

Perbedaan makam yang sudah terisi jenazah dengan makam yang masih kosong atau hidup terletak pada batu nisan. Batu nisan makam kosong atau orangnya masih hidup ditandai aksara Tinghoa cukup besar berwarna merah bertuliskan siwse yang artinya semoga panjang umur. Harapannya sebagai doa meskipun sudah membuat makam dan orangnya masih hidup, semoga dengan begitu orang tersebut memiliki umur panjang.

Perbedaan lain letak foto jenazah pada makam. Makam yang sudah terisi dengan jenazah biasanya terdapat foto meskipun tidak semua makam menempelkan foto. Akan tetapi untuk makam yang orangnya masih hidup hanya frame atau bingkai foto saja tanpa foto orang di dalamnya. Agar lebih jelas perhatikan foto makam Pak Suryanto Hermawan dan istrinya di bawah ini.

Makam Suryanto Hermawan dan Istri Dokumentasi Pribadi

Pak Suryanto yang juga dulu mantan pekerja di Yayasan Sentosa sejak 24 September 1976 tidak menampik mahalnya biaya pemakaman di Pemakaman Sentosa. Data lain yang saya terima dari peziarah Minggu (3/4) yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan, satu makam di Pemakaman Sentosa sekitar ± 10 juta ke atas masih dengan iuran perbulan.

Tidak hanya Pak Suryanto, ayah dan kakeknya ternyata dulu pernah bekerja di Yayasan Sentosa. Pak Suryanto merasa berterimakasih banyak kepada Yayasan Sentosa karena diberikan lahan cuma-cuma atau gratis dari Yayasan Sentosa untuk keluarganya yang sudah meninggal dunia. “Bapak saya juga mantan karyawan Yayasan Sentosa. Nah, jadi di situ yang dapat tempat (makam) ini juga dari yayasan yang mengasih kita untuk pemakaman di sini,” ujarnya. Ini adalah bentuk apresiasi dari Yayasan Sentosa kepada para pekerja setianya.

Walaupun Pemakaman Sentosa termasuk pemakaman terbesar yang ada di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Luas komplek Pemakaman Sentosa ± 19,945 hektar. Hingga artikel ini ditulis, tercatat sudah ada ± 12.950 makam. Menurut sejarah, makam ini dibangun pada 1935. Terletak di jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang.

Suasana Pemakaman Sentosa, Pangkalpinang di Sore Hari

Menurut Pak Suryanto, semakin lama tak menutup kemungkinan semakin terbatas lahan makam. Maka dari itu, selain Pemakaman Sentosa ada satu lagi pemakaman di Pangkalpinang yang bisa digunakan untuk pemakaman. Alternatif lain bisa dengan menggunakan kremasi atau pengabuan jenazah.

Sosok Pak Suryanto orangnya baik, ramah, sopan dan kebapakan. Tak terasa sedari sore hunting video dan foto waktu sudah menunjukkan hampir masuk shalat Isya. Sebagai umat Islam kami yakni saya, Cahyanto, Hermini dan Kang Dudi berpamitan untuk menunaikan shalat magrib dan isya di masjid terdekat terlebih dahulu.

Ternyata, masjid tempat kami akan shalat lumayan jauh. Sebelumnya, di prasasti tugu Pemakaman Sentosa depan tempat persembahyangan Paithin, ada panggung kecil tempat dimainkan musik tanjidor menyambut para peziarah untuk esok pagi harinya. Pak Suryanto sudah menawarkan diri untuk menggunakan motor saja yang sudah berbaris rapi di depan panggung saja pada kami.

Tapi kami menolak halus khawatir merepotkan. Niat baik Pak Suryanto ternyata bukan sekadar basa-basi, tapi memang tulus datang dari hati nurani. Buktinya Pak Suryanto masih menyusul kami yang sudah sampai perempatan Yayasan Rumah Dhuka Bakti Sosial untuk menawarkan kembali menggunakan motor saja menuju masjid yang letaknya masih jauh. Kami tetap memilih jalan kaki sembari jalan-jalan.

Saya merasa senang bisa kenal dekat dengan Pangkalpinang serumpun sebalai. Penduduknya ramah semoga di kemudian hari bisa kembali ke sini dan bertemu dengan Pak Suryanto Hermawan. Amin. ● Dede Ariyanto

2 komentar:

  1. TFS,
    jadi tahu beda makan terisi dan belum

    BalasHapus
  2. kok aku kemarin gak merhatiin pusaranya itu ya, ternyata kalau satu pusara bisa 2 orang gitu yaa

    BalasHapus

Terimakasih sudah turut berpartisipasi di blog ini dengan cara menulis komentar. Komentar yang berisi iklan, sara, pornografi dan spam terpaksa dihapus! :)

Search

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Komunitas Blogger

Blogger Reporter Indonesia



Fun Blogging


Warung Blogger


BloggerCrony Community

Karya Buku





Cuit-Cuit Yuk!