Minggu, 29 September 2013

Bahaya Radiasi Ponsel Picu Kanker Otak

PONSEL atau smartphone saat ini menjadi bagian terpenting atau gaya hidup dari masyarakat modern tidak terkecuali Indonesia. Jumlah produksi ponsel dari data Central Intelligence Agency (CIA) menunjukkan bahwa di dalam negeri hampir mencapai jumlah penduduk Indonesia yakni 236,8 juta pelanggan seluler aktif, sementara itu menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2013 penduduk Indonesia akan mencapai angka 250 juta, artinya setiap orang Indonesia hampir memiliki satu perangkat ponsel bahkan lebih.

Fungsi ponsel sekarang tidak hanya sebagai media berkirim pesan pendek SMS atau menelpon saja, tetapi sudah mewakili komputer mulai dari hiburan seperti bermain game, mendengarkan musik atau radio dan menonton video. Berkirim email, browsing internet atau mengerjakan dokumen kantor bisa dikerjakan kapan saja. Bahkan bisa melakukan transaksi pembayaran mulai dari pembayaran tiket pesawat, tagihan listrik atau belanja online. Maka tidak heran ketika seseorang kehilangan ponsel pintarnya seperti kehilangan dompet pribadi.

Namun ada fakta yang mengejutkan di balik kecanggihan teknologi yang dimiliki oleh ponsel, baru-baru ini ada kabar berita yang datang dari lembaga penelitian Amerika Environmental Working Group (EWG). Dari temuan tersebut mengungkapkan bahwa ada bahaya radiasi ponsel terhadap pengguna yang dapat menyebabkan penyakit kanker otak dalam periode penggunaan ponsel selama 10 tahun atau lebih secara signifikan.

Sementara itu perwakilan dari industri dan sebagian medis Amerika bersikap skeptis terhadap penemuan tersebut. Menurutnya tidak ditemukan data ilmiah yang menyebutkan hubungan radiasi ponsel dengan kanker otak. Namun kekhawatiran akan bahaya penggunaan ponsel mendorong dengar pendapat DPR di Amerika baru-baru ini, perwakilan dari institut kesehatan Amerika memaparkan study jangka panjang mereka yang meneliti efek radiasi ponsel pada tikus percobaan.

Lembaga penelitian EWG menjelaskan radiasi ponsel bisa memicu tumbuhnya sel kanker otak pada manusia. Radiasi ponsel yang dihasilkan datang dari perangkat pemancar dan penerima sinyal ponsel (antena) saat digunakan untuk menerima atau melakukan panggilan telpon. Radiasi ponsel akan lebih berbahaya lagi jika menimpa anak-anak. Pasalnya anak-anak lebih rentan terhadap radiasi ponsel, karena tengkorak mereka lebih tipis hingga mampu menyerap radiasi dua kali lipat dibandingkan dengan orang dewasa. Radiasi ponsel juga dapat mengganggu si jabang bayi bagi ibu hamil, maka sebaiknya bagi ibu hamil agar menghindari atau meminimalisir penggunaan perangkat ponsel mereka.

Sampai saat ini kanker otak adalah salah satu penyakit dari lima penyakit mematikan di dunia dan sulit untuk disembuhkan. Menurut medis, penyebabnya bisa dari dalam diri karena faktor keturunan atau genetik. Sedangkan faktor dari luar diri seperti merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, pola makan tidak sehat dan radiasi ponsel. Menghindari radiasi ponsel tentu langkah yang sangat bijaksana daripada harus mengobati penyakit kanker otak itu sendiri.

Gejala awal ditandai dengan sakit kepala atau pusing berkepanjangan dan datang beruang-ulang. Selan itu serangan pada otak membuat penderita kesulitan dalam berkonsentrasi. Kondisi tersebut tentu membuat penderita sulit untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik karena hilangnya konsentrasi. Penderita kanker otak juga otomatis akan mengalami penurunan daya ingat serta respon tubuh. Hal ini bisa terjadi karena pengaruh dan bermasalahnya organ otak dan syaraf yang mulai “dikuasai” oleh sel kanker.

Para ahli kemudian sepakat bahwa cara terbaik untuk menghindari radiasi ponsel tersebut adalah dengan menggunakan perangkat earphone. Earphone adalah alat penyuara telinga atau perangkat teknologi yang dapat mengubah energi listrik dari ponsel menjadi gelombang suara ke telinga. Dilengkapi dengan kabel dan dua speaker kecil yang dapat di pasang pada kedua telinga dan microphone kecil diantara kabel tersebut. Ini dilakukan guna menghindari pancaran langsung radiasi ponsel pada kepala, karena semakin jauh dengan alat penerima atau pemancar sinyal ponsel dengan otak manusia maka akan semakin ringan radiasi yang diterima.

Namun tidak untuk perangkat earphone yang mendukung Wireless atau Bluetooth, karena dalam perangkat tersebut sama halnya ponsel terdapat perangkat antena yang langsung dipasang pada telinga bagian dalam, ini justru lebih berbahaya lagi dibandingkan dengan menerima-melakukan panggilan langsung dari ponsel. Jika terpaksa menggunakan perangkat ini, sebaiknya digunakan saat-saat diperlukan saja seperti saat menyetir mobil tidak untuk pemakaian seharian. Selain itu jika repot membawa earphone atau tertinggal karena lupa bisa juga menggunakan fitur pengeras suara atau load speaker yang sekarang sudah banyak ada pada smartphone atau fitur phone.

Hingga akhirnya lembaga Food and Drug Administration (FDA) badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat yang berada di bawah naungan departemen kesehatan dan layanan masyarakat menyerukan agar untuk produsen ponsel dunia melakukan langkah preventif terkait penemuan bahaya radiasi ponsel tersebut. Memang semestinya produsen ponsel harus menerapkan teknologi atau standar baru yang lebih sehat bagi pengguna ponsel.

0 komentar:

Search

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Komunitas Blogger

Blogger Reporter Indonesia



Fun Blogging


Warung Blogger


BloggerCrony Community

Karya Buku





Cuit-Cuit Yuk!