Rabu, 23 Desember 2009

Motivasi Penulis Muda

Atas permintaan dari teman agar memposting artikel ini, maka dengan ini saya memenuhinya. Semoga bermanfa'at dan tidak kecewa. Selamat membaca. Sebagaimana pada firman Allah di atas, sejatinya menulis atau untuk menjadi penulis tidak lepas dengan kegiatan membaca. Seseorang yang senang menulis identik dengan suka membaca. Tidak hanya itu, nabi pun pernah bersabda : "Al'ilmu soydun walkitabuhu qoydun. Qoyid suyuudaka bil khibalil waasikhoti" artinya adalah “Ilmu itu bagaikan binatang buruan, maka ikatlah dengan cara menuliskannya agar binatang buruan (ilmu) itu tidak lari (menghilang).

Seminar Motivasi Penulis Muda

Jika kita berbicara tentang menulis sejatinya kita sebenarnya sudah menjadi penulis. Yang membedakan dengan penulis lainnya adalah apakah tulisan kita sudah dipublikasikan?? Loh kok, bisa?? Coba temen-temen ingat, kapan pertama kali kita sekolah? Atau jika kita tidak sekolah setidaknya kapan kita diajarkan tulis menulis oleh orang tua kita? Maka sejak saat itu pula kita sebenarnya sudah menjadi penulis. Biasanya di Indonesia pendidikan dimulai di usia 7-8 tahun, sejak saat itu pula kita terbiasa menulis mata pelajaran. Namun sayangnya hal itu hanya bersifat pasif.

Atau apakah temen-temen pernah mendengar kalimat seperti ini: “Diakan menjadi penulis karena memang bakatnya menulis”. Jika jawabnya pernah, maka tinggalkan pola pemikiran bahwa menulis atau penulis adalah bakat. Bukan! Sekali lagi bukan kawan!!. Menulis adalah bukan bakat. Semua orang ada bakat untuk menulis sebagaimana yang sudah diuraikan, kita sudah belajar menulis sejak masuk SD. Bakat itu lahir karena proses, dan proses itu adalah hasil dari ketekunan mereka berlatih, sehingga muncullah istilah di masyarakat dengan dengan kuat bahwa menulis adalah bakat. Karena cenderung masyarakat hanya melihat hasilnya saja bukan bagaimana proses dari hasil tersebut. Seperti halnya orang memandang pengertian cerdas, pintar, smart, cermat dan sebagainya. Itu lahir bukan karena bakat atau serta merta kecuali nabi dan Rasulullah yang biasa kita kenal dengan mukjizat. Tetapi seseorang dikatakan cerdas lantaran ia berusaha belajar dengan sungguh-sungguh, hanya saja yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah seberapa cepat otak manusia menangkap materi yang diajarkan.

Sebetulnya untuk menjadi penulis tidaklah sulit, terkadang kita terbentur terhadap teknis dan tatacara menulis yang pada akhirnya ingin dijadikan karya (buku, novel dll). Menulis dapat dimuali dari hal-hal yang sangat sederhana sekali, misalnya sebagai berikut:

1.Buku Harian
Bersukurlah teman jika kamu suka menulis di buku harian. Buku harian memang identik dengan feminim. Sekali lagi tidak. Buku harian atau buku harian online yang biasa kita sebut dengan blog. Ternyata juga faktor yang membuat kita suka menulis. Jangan takut dibilang feminim. Teruslah menulis di buku harian, selain kita menjadi lega perasaan kita karena dapat menumpahkan segala unek-unek, kesal, marah kita tanpa buku harian memprotesnya. Juga kita mendapatkan sisi positivnya berupa terbiasa menulis.

2.Hobby
Jika kesusahan dalam menulis, maka tulislah sesuai hobby atau kesukaan teman-teman. Sebagai contoh jika teman-teman suka membaca novel maka cobalah menulis novel. Jika teman-teman suka dengan komputer maka cobalah tulis buku komputer. Jika temen-temen remaja putri bahkan suka memasak cobalah tulis buku masakan. Jika temen suka berpuisi maka cobalah tulis puisi-puisi sehingga harapannya sama dengan mereka seperti W.S Rendra, Mustofa Bisri, M H Ainun Najib (Cak Nun). Jika mereka bisa mengapa kita tidak.

3.Susah memulai
Pertanyaan ini memang kerap diajukan sama saya, saya juga mengalaminya. Ternyata menurut saya sendiri ide atau bagaimana awal menulis tersendat karena kurangnya kita membaca. Membaca tidak hanya sebatas membaca buku saja, membaca di sini dipahami secara luas. Membaca buku, membaca website, membaca alam semesta dan sebagainya. Insya Allah dengan banyak membaca maka akan dapat memudahkan kita dalam menulis. Semakin banyak membaca maka hasil tulisan kita bagaikan air sungai yang mengalir deras.

4.Jangan Takut Ditolak
Hal yang paling menakutkan bagi seorang penulis adalah ketika naskah sudah jadi dan hendak dikirimkan kepada penerbit takut di tolak. Atau bahkan sudah ditolak. Sungguh rasanya mungkin kiamatlah dunia :D Tetapi yang perlu di ingat adalah, ditolaknya karya kita bukan serta merta lantaran naskah kita jelek. Kemungkinan naskah ditolak lantaran, naskah tersebut tidak sesuai dengan misi dan visi penerbit. Misalnya, seorang penulis cerpen remaja harusnya mengirimkan naskah-nya ke penerbit Cupid tetapi mengirimkannya ke penerbit Mizan yang notabene media dakwah Islam, padahal naskah tersebut tidak ada unsur dakwah. Maka dapat dipastikan naskah akan ditolak. Masih ingat dengan tokoh Thomas Alva Edison yang gagal melakukan eksperimen hingga 999 kali, tetapi pada eksperiment kurang lebih 1000 kali baru berhasil. Jika saja pada saat itu Thomas Alva Edison putus asa, maka kemungkinan kita tidak dapat menikmati listrik seperti sekarang ini.

Belajarlah dari seorang bayi yang berjuang dan tidak merasa kesakitan ketika jatuh dan berusaha untuk bangun kembali, jatuh lagi dan bangun lagi kemudian jatuh lagi dan bangun lagi sampai akhirnya berhasil berjalan seperti kita ini. Belajar pulalah dari seekor ulat yang dengan sabar mencoba mengais makanan di pohon yang tinggi nan menjulang, padahal tiupan angin burung dan rintangan lain menghadang namun tetap sabar dan tawakal, sehingga akhirnya sampai juga di puncak pohon dan mendapatkan daun muda sebagai makanannya.


5.Kuasailah Teknologi
Dizaman yang sudah maju dan modern seperti ini, seyogyanya seorang penulis harus menguasai teknologi. Minimal bisa membuat email, mengetik dengan program Microsoft Word. Karena banyak dari tuntutan penerbit sudah tidak menerima tulisan tangan, tetapi harus diketik dengan komputer. Karena itu memudahkan dalam produksi buku, meringankan kerja editor tanpa harus mengetik ulang tinggal megolah yamg sudah ada.

“Menulis Bukanlah Teori Semata, Tetapi Praktek Maka Menulislah”


Menyampaikan Materi Seminar Motivasi Penulis Muda

Antusias Peserta Seminar Motivasi Penulis Muda


* Disajikan dalam rangka seminar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta depan Gedung Multiporpuse Kamis 27 Agustus 2009. Penyelenggara panitia Ramadhan Bil Jami’ah dengan mengusung tema “Motivasi Penulis Muda”.

6 komentar:

  1. Artikel yang bagus untuk para penulis muda. Tapi blog ini kok sepi ya...

    BalasHapus
  2. Dede Ariyanto17 Mei 2010 08.43

    Terimakasih. Karena habis peralihan dari blog lama menuju ke blog baru. :D

    BalasHapus
  3. Lanjutkan visimu (Wafiq azizah) untuk penerus generasi mendatang.
    From : Alumni Pesantren Buntet Cirebon
    e-mail : harun_211@yahoo.co.id

    BalasHapus
  4. @ Harun
    Wafiq azizah di posting samping mas, salah kamar yah :D

    BalasHapus
  5. saya mau bertanya mengenai software mengetik tanpa mengetik apa kemarin waktu di UNP (universitas nusantara PGRI kediri) tidak dikasih softwarenya di CD Software. terima kasih mas dede

    BalasHapus
  6. Buat: Didik Setiadi
    Dikasih mas Didik, coba buka lagi ada di folder "Editing" di dalamnya ada "Abby Fine Reader"

    BalasHapus

Terimakasih sudah turut berpartisipasi di blog ini dengan cara menulis komentar. Komentar yang berisi iklan, sara, pornografi dan spam terpaksa dihapus! :)

Search

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Komunitas Blogger

Blogger Reporter Indonesia



Fun Blogging


Warung Blogger


BloggerCrony Community

Karya Buku





Arsip Blog

Cuit-Cuit Yuk!