Rabu, 23 Desember 2009

Sampah, Banjir & Ritual Tahunan

Siap-siap hadapi banjir panjang di akhir dan penghujung tahun baru 2009 nanti kota Jakarta. Begitulah kira-kira himbauan dan ramalan BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) menurut Kepala Informasi Klimatologi dan Kualitas Udara BMG Endro Santoso di Jakarta, Senin (Antara-10/11)*.

Jakarta merupakan kota yang padat dengan aktifitas di dalamnya. Banyak orang yang urbanisasi di dalamnya dari berbagai daerah. Dengan tujuan mengadu nasib ke Jakarta, agar memperoleh massa depan yang lebih baik. Padatnya kota Jakarta ternyata salah satu faktor timbulnya banjir di kota terpadat penduduknya tersebut. Pasalnya banyak warga yang tidak mempunyai kesadaran terhadap lingkungan. Terutama mereka yang terbiasa membuang sampah di aliran kali Jakarta. Hal ini juga berlaku bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia, namun intensitas prediksi banjir tak separah Jakarta.



Sobat MuDa taukah kamu? Jakarta akan mengalami musim hujan panjang di akhir tahun dan penghujung tahun baru 2009. Sebuah keseimbangan alam yang ironis. Mengapa? Harusnya musim hujan datang di bulan September-Desember. Namun BMG mengungkapkan musim hujan berakhir pada bulan Mei. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, anatara lain : Keseimbangan alam sudah terkikis. Banyak jantung kota yang (pepohonan) semakin lama semakin berkurang. Beratus-ratus kendaran dan pabrik yang menghasilkan racun, polusi udara, gaya hidup life style yang keliru. Seperti menyalakan TV atau komputer sampai pagi, kipas angin yang ditinggal kerja, dan sebagainya. Hal ini secara ilmiah memacu pemanasan global dan musim hujan yang panjang. Menjadikan bumi ini mati secara cepat.

Musim hujan yang panjang didukung dengan minimnya kesadaran masyarakat seperti membuang sampah sembarangan, membuang sampah di kali, ditambah dengan kepadatan bangunan di dalamnya menjadikan air susah diserap tanah. Alhasil dapat dipastikan banjir. Nampaknya Jakarta merupakan langganan banjir setiap tahunnya. Sebuah “ritual” tahunan. Belum lagi dengan penyakit aneh yang bermunculan paska banjir. Karena banyaknya sampah yang tertimbun berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun menjadikan kali kota Jakarta berwarna hitam pekat. Karenanya banjir mampu membuat sampah-sampah tersebut naik ke permukaan pemukiman warga. Akibatnya timbulah berbagai penyakit pasca banjir.

Solusi dari permasalahan tersebut adalah, pemerintah harus lebih teliti terhadap tata letak kota. Kemudian menyampaikan pesan sosial melalui media tentang pentingnya menjaga dan kesadaran lingkungan. Masyarakat pun harus peran aktif merespon maksud baik pemerintah. Karena banjir adalah tugas kita bersama. Taukah kamu sobat MuDa di negara-negara maju seperti Singapura banjir dapat diatasi dengan tata letak kota dan irigasi yang baik. Tak segan-segan ada denda bagi mereka yang membuang sampah sembarangan. Sepertinya Indonesia harus bercermin pada Singpura. Maka jadilah sahabat bumi wahai warga Jakarta khususnya dan umumnya warga bumi. Namun demikian itu baru ramalan cuaca yang dilakukan oleh manusia yang terkadang meleset dari perkiraan. Semoga tidak terjadi.

0 komentar:

Search

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Komunitas Blogger

Blogger Reporter Indonesia



Fun Blogging


Warung Blogger


BloggerCrony Community

Karya Buku





Arsip Blog

Cuit-Cuit Yuk!