Rabu, 23 Desember 2009

Refleksi Idul Adha 2008

Tanggal 8 Desember 2008 ini umat Islam akan merayakan hari raya Idul Adha 1429 H. Sebuah sejarah penting yang ditamtsilkan oleh nabi Ibrohim dan putranya Ismail. Tercermin dari kisah nyata tersebut, bahwa seharusnya manusia dapat memetik hikmah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah kenyataan yang mencerminkan bahwa manusia mepunyai dua dimensi, dimensi sosial dan dimensi ubudiyah.

Sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri-sendiri. Mereka membutuhkan interaksi sosial antara yang satu dan yang lainnya. Karena tidak mungkin manusia hidup secara individual. Momen Idul Adha menggambarkan kepada manusia bahwa betapa berkorban itu menjadi suatu kewajiban bagi mereka tatkala mampu. Hal ini dipertegas oleh Allah dalam al-Qur’an “Telah kami tebarkan nikmat yang banyak kepadamu, maka dirikanlah sholat dan berkurbanlah” (QS 108:1-2).

Dalam dataran dimensi sosial ini manusia cenderung berfikir fragmatis, mereka beranggapan bahwa berkurban hanya akan mengurangi bagian harta dari mereka. Yang sebenarnya manusia sebagai mahluk ada sisi yang tidak dapat dijangkau oleh rasio. Berkurban adalah hanya bagian kecil yang dikorbankan kepada-Nya atas karunia yang sudah didapat, sebagai simbol ketaatan, ketaqwaan dan keihlasan kepada Allah. Disisi lain dengan berkurban ada kesenangan tersendiri di hati orang miskin, karena mereka mendapatkan kebahagiaan yang tidak didaptkan pada hari-hari biasanya. Sebagai hamba yang bertaqwa, umat Islam seharusnya dapat mereflesikan nilai-nilai yang terkandung dalam berkurban. Berkurban tidak harus dilaksanakan pada saat hari raya Idul Adha saja. Bagi mereka yang tidak terkena kewajiban berkurban, berkurban dapat dilaksanakan sesuai kemampuan masing-masing individu terhadap sesama. Sesungguhnya jika ini dapat dilaksanakan oleh segenap elemen masyarakat tentu tingkat kemiskinan di Indonesia dapat berkurang bahkan mungkin tak ada.

Sedangkan pada dataran dimensi ubudiyah, dengan berkurban memiliki makna sebagai ibadah. Sebagi bentuk dari ibadah, tentu memiliki nilai pahala disisi-Nya. Yang kelak dapat menyelamatkan manusia dari siksa api Neraka. Nabi bersabda “Laksanakanlah ibadah sesuai dengan kemampuanmu. Jangan membiasakan ibadah ditinggalkan” (HR. Addailami).

Hubungan manusia dengan Allah tercermin dari ibadah-nya. Sebagai mahluk, manusia adalah mahluk yang sempurna dibandingkan dengan mahluk lainnya bahkan dengan Malaikat sekalipun. Yang membedakan adalah manusia dibekali dengan akal dan nafsu. Sedangkan mahluk yang lain tidak. Maka tatkala manusia mampu menahan nafsunya, drajat manusia lebih tinggi dibandingkan dengan Malaikat.

Kehidupan yang bersifat sementara ini terkadang membuat manusia lalai dan lupa apa dan untuk apa manusia diciptakan di dunia. Jangan sampai terlenakan dengan kesenangan duniawi semata. Untuk itulah karena manusia dibekali dengan akal, hendaknya manusia berfikir lagi bahwa begitu banyak kenikmatan yang sudah didapat maka sebagai bentuk ibadah manusia wajib berkurban bagi mereka yang mampu. Jangan sampai kenikmatan tersebut berubah menjadi adzab yang sangat pedih baik di dunia maupun kelak di kahirat.

0 komentar:

Search

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Komunitas Blogger

Blogger Reporter Indonesia



Fun Blogging


Warung Blogger


BloggerCrony Community

Karya Buku





Arsip Blog

Cuit-Cuit Yuk!