Senin, 30 Desember 2019

Diskusi Bareng Bawaslu Kepulauan Seribu Tentang Pentingnya Penguatan Pengawasan Partisipatif

JANGAN ada cebong dan kampret di antara kita. 😁 Yuk, songsong Indonesia yang lebih baik lagi. Lebih damai lagi. Jaga persatuan dan kesatuan kita. Pemilu udah selesai. Baper-nya jangan dibawa sampe sekarang dong. πŸ˜€

(Suasana Diskusi “Penguatan Pengawasan Partisipatif”)

Suksesnya pemilu, karena kita semua. Ya, Bawaslu, ya masyarakat, dan semuanya yang terlibat. Singkatnya, pengawasan suksesnya jalannya pemilu, tugas kita semua. Masyarakat Indonesia. 😎

Beberapa hari yang lalu aku ngadiri undangan yang datang dari Bawaslu Administrasi Kepulauan Seribu, sehubungan udah selesainya seluruh tahapan Pemilihan Umum Tahun 2019.

Dan dalam rangka memelihara hubungan, jaringan, dengan mengangkat tema diskusi “Penguatan Pengawasan Partisipatif”. Tujuannya, supaya pemilu kedepannya lebih baik lagi dengan mendengar banyak masukan dari masing-masing-masing perwakilan masyarakat.

(Sharing Session Bapak Mahyudin Selaku Anggota Bawaslu provinsi DKI Jakarta)

Oh iya, acara ini dihadiri oleh bapak Mahyudin selaku anggota Bawaslu provinsi DKI Jakarta dan ketua Bawaslu provinsi kabupaten administrasi Kepulauan Seribu bapak Leo Syaripudin, juga tiga anggota Bawaslu kabupaten administrasi Kepulauan Seribu salah satunya adalah Ahmad Fiqri.

Dalam diskusi ini kurang lebih dihadiri oleh 100 peserta yang terdiri dari unsur Pemda Kepulauan Seribu, jajaran kepolisian, eks panwascam 2019, stakeholder pemilu, ormas, forum kemasyarakatan dan keagamaan juga rekan blogger dan mahasiswa. Bertempat di Sunlake hotel Danau Sunter, Jakarta, Senin, (23/12/2019).

Dalam diskusi ini pun Bawaslu banyak mendengar masukan, opini, juga kritikan dari para undangan yang mewakili masyarakatnya masing-masing. Ini tidak lain agar kedepannya pemilu lebih transparan dan lebih baik lagi.

Ajang pemilihan Presiden yang diadakan setiap lima tahun sekali ini memang bukan perkara mudah. Untuk itu, dibutuhkan kedewasaan berfikir dan bertindak semua masyarakat Indonesia agar tidak mudah terpengaruh sehingga nantinya bisa menentukan hak pilihnya secara mantap.

Yang namanya kecurangan dalam pemilu sudah barang tentu nggak bisa dipungkiri. Apalagi detik-detik sebelum pencoblosan yang umumnya disebut orang dengan “serangan fajar”. Bentuknya pun macem-macem. Ada yang dengan cara bagi-bagi sembako ada juga yang dengan cara bagi-bagi amplop yang dalamnya diisi uang.

Ini sebenarnya cara-cara kuno dan hampir nggak berlaku lagi untuk masyarakat zaman now khususnya masyarakat modern. Bisa jadi dan syah saja mereka terima pemberian itu, tapi soal pilihan tetap mantap dari awal.

(Team Blogger Foto Bareng Usai Diskusi)

Banyak juga ditemui kecurangan lain baik secala kecil atau pun besar. Uniknya hal ini nggak terjadi di Kepulauan Seribu. Keberhasilan pelaksanaan Pemilu di Kepulauan Seribu bisa dijadikan contoh untuk daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia. Kuncinya ternyata ada di bagaimana kita bisa memperkuat partisipasi pengawasan dalam melaksanakan pemilu. Untuk itulah penting diadakannya dengar pendapat atau diskusi semacam ini.

Kunci lainnya juga ada pada masyarakat. Di mana sejatinya pemilu itu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka sebagai rakyat jangan apatis atau cuek dengan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi baik sebelum dan sesudah pemilu. Karena masyarakat ini yang jauh lebih tau dan langsung bersentuhan dengan pelanggaran.

Kalo pengawasan dan masyarakatnya sudah kuat, maka hal-hal pelanggaran seperti di atas semestinya nggak terjadi. Dan aku berharap, semoga kedepannya pemilu di Indonesia makin baik lagi. Akhir kata, semoga postingan ini bermanfaat. Salam blogger! ● Dede Ariyanto

0 komentar:

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Karya Buku





Viva Blog

Komunitas Blogger

Indoblognet
BloggerCrony Community


Komunitas ISB

Blogger Reporter Indonesia

Populer Post

Arsip Blog

Label

Arsip Blog