Kamis, 11 Juni 2015

Glass is Life Blogger Gathering

Bertempat di gedung WIMO lantai 3, Coworkinc Space, Jalan Kemang 1 No.7 Jakarta telah diselenggarakan acara “Glass is Life Blogger Gathering”, Selasa, 9 Juni 2015. Bersamaan dengan acara tersebut, sekaligus pengenalan atau launching Official Website Glass is Life yang bisa diakses di www.glassislife.com

Apa itu Glass is Life? Pertanyaan yang wajar untuk diajukan pun saat membaca artikel ini. Glass is life adalah komunitas yang mencintai kaca dan peduli pada pemakaian kemasan kaca dalam kehidupan manusia sehari-hari. Karena kaca (glass) terbuat dari bahan alami yaitu pasir kaca sehingga 100% dapat didaur ulang berulang-ulang kali.
Dokumentasi Pribadi: Para Narasumber dalam Event Glass is Life Blogger Gathering

Glass is live lahir dari kecintaan terhadap kaca untuk kebaikan kehidupan manusia dan kepedulian lingkungan yang lebih baik. Di tengah-tengah maraknya penggunaan bahan yang kurang baik untuk mengemas makanan atau minuman.

Dalam acara tersebut, secara eksklusif dihadiri oleh komunitas Blogger Reporter Indonesia (BRID), ada 15 orang yang beruntung bisa mengikuti dan meliput acara tersebut. Bak jurnalis profesional, mereka tak sungkan atau canggung mengobrol dengan para narasumber atau bertanya secara langsung. Alat perang tak lupa mereka siapkan seperti block note, ballpoint dan camera yang siap merekam atau memotret moment-moment berharga.

Tidak hanya itu, acara yang berlangsung pukul 18.00 sampai dengan 21.00 WIB juga menghadirkan pembicara-pembicara yang memang concern di bidang kaca atau glass. Ada empat narasumber yang sudah sharing mereka adalah Noor Wellingthon, Edwin Pranata, Jonathan Lesmana dan Karin van Lieshout.

Narasumber pertama adalah Noor Wellingthon, di awal-awal menyampaikan materi bertanya kepada seluruh audiens yang hadir, “Enakan mana, minum-minuman botol kaca atau plastik?” Pasti segar dan enakan botol, bukan?” Jawabnya menegaskan.

Masih menurut penjelasannya, hal tersebut bisa terjadi karena kaca atau gelas mampu menjaga baik dari sisi aroma atau rasa yang ada dalam kandungan isi botol itu sendiri. Makanan atau minuman yang menggunakan kemasan botol jauh lebih healthy, pure dan taste.

Alasan lain mengapa pabrikan harus berani mengemas produk-produknya dengan bahan glass lantaran bahan gelas lebih ramah terhadap lingkungan. Menurutnya, sampah plastik yang tertimbun di tanah susah untuk diurai oleh tanah dan itu butuh waktu lama. Lain halnya dengan glass atau kaca, karena bahan dasar kaca adalah pasir kaca, secara alami dan otomatis sampah atau limbah gelas atau botol yang terkubur dalam tanah dengan sendirinya akan terurai dan kembali ke tanah. Yang terpenting limbah gelas tidak merusak lingkungan.

Meskipun tak dapat dipungkiri alasan faktor harga dan berat dari kemasan yang menggunakan botolah yang menjadi pertimbangan beberapa pabrik masih bertahan menggunakan plastik. Itu masih bisa dimaklumi karena orientasi perusahaan banyak ke arah bisnis. Tetapi Pak Welli, sapaan akrabnya, meyakini ke depanya para industri akan sadar dan kembali di era 90-an menggunakan botol. Teknologi akan semakin maju dan canggih botol bisa jadi lebih ringan dengan campuran bahan lain yang kekuatannya sama. Industri akan sadar bahwa kemasan yang menggunakan botol lebih sehat dan bisa dibentuk dengan model yang lebih trendi.

Mengakhiri presentasinya, Pak Welli memutar video bagaimana proses dari pembuatan botol-botol di pabrikan. Penulis sampai tercengang, bagaimana tidak, untuk mencetak satu botol saja diperlukan suhu 150 derajat Celsius. “Kira-kira alat masak apa untuk membuat botol dengan suhu sepanas itu? Tanya Pak Willi kepada yang hadir. Tidak ada yang kuat menahan suhu sepanas itu, besi, baja, apalagi aluminium bisa meleleh karena panasnya. Satu bahan yang tidak bisa meleleh yakni batu. Ya, batu. Tungku-tungku untuk memasak bahan gelas terbuat dari batu. Itulah istimewanya glass.

Dilanjutkan oleh pembicara kedua datang dari pengusaha sarang burung Walet, Edwin Pranata. Masih muda dan gagah tapi sudah memiliki bisnis di bidang olah minuman yang juga menggunakan botol. Menurutnya, alasan memilih menggunakan botol karena segmentasi dari bisnis yang dikelolanya adalah anak muda. Dengan menggunakan botol, dirinya bisa mendesain sesuai dengan pasar kaula muda. Juga yang terpenting menggunakan botol lebih sehat sama dengan apa yang sudah disampaikan oleh Pak Welli.

Tak kalah seru juga datang dari pembicara ketiga, Jonathan Lesmana selaku Managing Director dari kedai Sue Ora Jamu di bilangan Jakarta. “Sejak awal, jika orientasi Kami adalah bisnis, lebih baik membuka kedai Kopi atau Teh saja”, ujarnya. Alasan mengapa memilih olah minuman jamu, “Indonesia inikan memiliki kurang lebih 6.000 tanaman herbal jamu. Sangat sayang sekali kalo potensi itu hilang. Kami ingin mengangkat jamu menjadi nomor 3 di dunia setelah Kopi dan Teh”.

Awal-awal membuka usah Sue Ora Jamu juga menggunakan botol hingga sekarang. Yang membedakan pembeli yang membeli jamu di kedai Sue Ora Jamu harus mengembalikan botol untuk bisa digunakan atau di-refiil ulang. Agar menarik pembeli, mereka yang mengembalikan botol akan diberikan uang seharga botol. Lucunya, pembeli kemudian banyak yang tidak mengembalikan botol jamu yang dijual. Dengan rasa penasaran Pak Jonathan melakukan survei kecil-kecilan dengan langsung menanyakan alasan apa pembeli tidak mengembalikan botol jamunya? “Soalnya lucu bentuknya”, menirukan alasan pembeli yang sontak diiringi gelak tawa yang hadir.

Bermula dari semua itu kemudian program pengembalian botol pun tidak dilanjutkan. Betapa bahwa kemasan botol tidak melulu kaku dan monoton. Karena segmentasi dari usaha kedai Sue Ora Jamu juga anak muda tanpa mengesampingkan kualitas dan mutu isi dari racikan jamu yang ada dalam botol, Pak Jonathan pun menitik beratkan pada tampilan dan desain dari botolnya. Harapannya setelah melihat botolnya menarik dengan sendirinya akan meminum isinya.

Beruntungnya yang hadir dalam acara Blogger Meet and Great Glass is Life bisa mencicipi dan melihat langsung olahan jamu dari kedai Sue Ora Jamu. Ada jamu dari Alang-Alang, Beras Kencur, Kunyit Asam dan Rosella dengan khasiat dari masing-masing produk.
Dokumentasi Pribadi: Sample Produk Olahan Kedai Sue Ora Jamu

Dan pembicara terakhir datang dari Ffrash, Mrs. Karin van Lieshout. Sebuah organisasi atau LSM yang memberdayakan anak-anak jalanan dan pinggiran untuk sama-sama mengolah limbah botol dan gelas agar memiliki nilai jual buat kepentingan bersama. Tidak banyak yang dijelaskan oleh Mrs. Karin dalam presentasinya yang menggunakan bahasa Inggris selain kepedulian dia terhadap limbah kaca atau glass yang ada di Indonesia dan kepekaan beliau terhadap anak jalanan. Itu terlihat sekali dari setiap slide presentasi yang banyak didominasi oleh foto-foto proses pemuatan dan pengolahan dari limbah botol.

Pengunjung juga bisa melihat-lihat Pop Up Gallery of Glass atau pameran glass produk dari Ffrash dan Agung Pramudya Wijaya dari olahan limbah kaca. Limbah yang bagi orang mungkin tak berharga dan bernilai bisa disulap oleh tangan kreatif seperti Pak Agung menjadi barang perabotan yang eye catching dan cantik seperti lampu pada foto di bawah ini.
Dokumentasi Pribadi: Produk Kerajinan Limbah Glass dari Agung Pramudya Wijaya

Acara bertambah meriah dan seru dengan adanya BBQ party, Live Performance Music Acoustic, pembagian goodie bag, door prize, voucher MAP senilai Rp 150.000 bagi tiga orang yang beruntung (door prize)dan Live Tweet Competition yang memperebutkan jalan-jalan ke Bali. So, semuanya tetap beruntung, karena semua peserta BRID tetap mendapatkan voucher MAP senilai Rp 100.000.
 Dokumentasi Pribadi: BBQ Party dan Aneka Buah-Buahan Segar yang Lezat dan Nikmat

0 komentar:

Search

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Komunitas Blogger

Blogger Reporter Indonesia



Fun Blogging


Warung Blogger


BloggerCrony Community

Karya Buku





Cuit-Cuit Yuk!