Jumat, 20 Juli 2012

Ini Passion-ku, Apa Passion-mu

MENJADI pendidik itu berbeda sekali dengan seorang pengajar. Kedua kata tersebut memang hampir tidak ada bedanya. Hampir sama, bahkan mungkin sama. Pengajar memiliki ciri khusus dengan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi, seperti kemampuan dalam bidang keilmuan tertentu. Tidak sembarangan orang mampu menjadi pengajar karena harus melalui proses dan syarat yang sudah ditetapkan. Pengajar biasanya mereka yang bergelar guru atau dosen. Tetapi perlu direnungkan, sekali lagi bahwa pengajar dan pendidik itu jelas-jelas berbeda.

Beginilah Kondisi Sekolah yang Tidak Layak Pakai

Seorang pengajar mengajarkan siswa bagaimana menjadi pintar sedangkan seorang pendidik mendidik siswa bersifat baik dan jujur tanpa mengesampingkan prioritas utama agar siswa menjadi pintar. Biasanya, orang menyebutnya dengan pendidikan berkarakter.

Pengajar hanya memenuhi kewajiban sebagai profesi saja, sedangkan pendidik tidak hanya itu, keikhlasan dalam mendidik tentu sangat diutamakan. Pengajar selalu kecewa apabila imbal balik tidak sesuai dengan harapan, namun pendidik memiliki kesenangan batin saat dapat berbagi ilmu kepada siswa. Kesenangan batin yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, sebuah kesenangan yang hanya mereka saja yang benar-benar ikhlas yang dapat merasakannya. Maka alangkah baiknya seorang pengajar itu juga memiliki sifat sebagai seorang pendidik.

Tetapi menjadi pendidik semua orang dapat melakukan itu, meskipun hanya mempunyai kemampuan baca tulis saja kepada orang sekitar. Contoh menjadi pendidik paling sederhana adalah pada lingkungan keluarga. Misal saja seorang ayah yang berusaha mendidik anak-anak dan istri dengan baik. Menjadi pendidik selamanya tidak identik melakukan kegiatan ceramah di depan puluhan siswa. Pendidik tidak selamanya juga harus terikat dengan instansi. Pendidikan dapat juga dilakukan dengan contoh atau teladan baik kita di keluarga, mengapa? Karena anak-anak akan cenderung dan pasti meniru perbuatan yang dilakukan oleh para orang tuanya.

Pendidikan merupakan aset yang sangat penting bagi Indonesia saat ini, dengan pendidikan suatu negara dapat maju, tidak mudah “dijajah” secara budaya, ekonomi dan politik. Sayangnya pendidikan di Indonesia belum ada pemerataan. Terutama di wilayah pedalaman. Jangankan pendidikan, listrik pun belum masuk.

Sering juga kita menonton tayangan televisi bahwa bukti lain belum adanya pemerataan pendidikan adalah terlihat dari beberapa anak yang ingin sekolah harus bangun pagi buta dan menelusuri medan yang cukup sulit untuk dirinya. Mereka harus berjalan menelusuri jalan berpuluh-puluh meter untuk sampai di tempat sekolah. Belum lagi dengan kondisi jembatan yang tak layak pakai yang sewaktu-waktu membahayakan mereka sendiri dengan arus sungai deras di bawah jembatan tersebut, jalan licin dan terjal kesemuanya itu merupakan bukti nyata pendidikan belum rata. Belum lagi dengan kondisi sekolah yang tidak layak pakai.

Sementara itu, di kota-kota besar siswa dengan mudahnya pergi ke sekolah, bahkan diantar jemput oleh bapak atau ibunya menggunakan motor atau mobil. Ini tentu tidak sesuai dengan UUD 1945 BAB XIII tentang Pendidikan dan Kebudayaan Pasal 31 Ayat 1 berbunyi "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan".

Wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah adalah salah satu upaya bagaimana pemerintah juga memperhatikan pendidikan. Namun kita juga tidak boleh menutup mata bahwa masih banyak anak-anak yang putus sekolah. Hal ini dikarenakan mahalnya biaya pendidikan. Belum lagi dengan bayaran tambahan yang seharusnya tidak dibebankan kepada wali murid seperti pembayaran uang gedung, buku, seragam, dan lain sebagainya.

Mahalnya biaya pendidikan disebabkan juga dengan rendahnya nilai mata uang suatu negara dan rendahnya pendapatan suatu masyarakat. Jika diamati, biaya sekolah setiap tahun terus mengalami kenaikan. Berbeda sekali kondisinya sebelum tahun 1998 di mana biaya pendidikan tidak semahal sekarang. Krisis moneter yang terjadi tahun 1998 mencapai puncaknya dengan gerakan reformasi dan huru-hara di mana-mana, sejak saat itu hingga sekarang pemulihan ekonomi belum tuntas.

Pandangan miring terhadap profesi pendidik atau guru kerap kali dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Ada yang salah di sini, sering kali penilaian dilihat dari pendapatan materi saja. Tidak memandang bahwa mendidik juga merupakan panggilan jiwa terdalam seorang pendidik, kesenangan batin yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, sebuah kesenangan yang hanya mereka saja yang benar-benar ikhlas yang dapat merasakannya.

Maka tidak heran jika ada seseorang yang sebelumnya sudah bekerja di tempat nyaman atau bahkan sangat nyaman sekali buat kehidupannya kemudian dengan rela dan ikhlas melepas semua pekerjanya itu dan memilih menjadi pendidik, itu disebabkan karena panggilan jiwa dan kepuasan batin tersebut di samping mungkin tanggung jawab sosialnya terhadap sesama.

Maka dari itu, bagi calon pendidik apabila tidak ada panggilan jiwa dan keikhlasan dalam hati janganlah sekali-kali menjadi pengajar, karena melakukan pekerjaan atas dasar terpaksa itu sangat tidak enak. Sebaliknya menjadi pendidik karena panggilan jiwa, keikhlasan justru terkadang mendapatkan sesuatu yang tidak disangka-sangka dari Tuhan. Yakin dan percayalah itu pasti ada.

Profesi seorang pendidik nampaknya diberikan beberapa kelebihan lain oleh Tuhan yang tidak diberikan pada profesi lain dan jarang orang mengetahuinya. Hal ini terlihat tatkala kita bertemu dengan guru kita saat Sekolah Dasar (SD) dulu. Coba perhatikan raut wajahnya, terlihat sedikit sekali perubahan. Maksud saya terlihat awet muda. Dari dulu seperti itu, sedikit berubah. Atau jangan-jangan justru kita yang terlihat lebih tua.

Kemudian kelebihan lainnya adalah diberikan umur panjang. Berapa banyak para guru yang kemudian memasuki masa pensiun, sebuah keadaan di mana seseorang sudah tidak diperkenankan untuk bekerja lagi karena pertimbangan usia. Justru banyak dari mereka yang masih semangat dan ingin terus mengajar. Walau akhirnya mereka terpaksa sadar melepas profesi mulia itu dengan perpisahan berlinang air mata melihat murid-murid di sekolah yang mereka sayangi.

Sebuah keadaan di mana apabila kita mengalami hal ini hingga tak terasa air mata meleleh di pipi kita. Guru yang mengajar dengan tulus dan ikhlas memang istimewa sangat terasa dan membekas sekali di hati para siswa. Adapun yang terakhir kelebihan seorang guru adalah diberikan pahala besar oleh Tuhan kelak di akhirat.
******

Bukti bahwa menjadi pendidik itu adalah panggilan jiwa dan kepuasan batin tersendiri bagi seorang pendidik, satu diantara kisah sangat inspiratif yang perlu kita teladani. Seorang Sugiyanto, ini adalah kisah nyata bukan rekayasa. Sugiyanto bukanlah siapa-siapa, dirinya adalah pendatang asal Jember Jawa Timur di pulau Buru Maluku. Sebuah pulau pedalaman. Sugiyanto merasa terpanggil melihat keadaan di mana sangat sedikit sekali di pulau Buru yang hanya bisa baca tulis.

Hatinya kemudian tergerak untuk mengajarkan ilmunya meskipun hanya memiliki kemampuan baca tulis saja. Sekolah atau pendidikan di pulau seperti Buru tidak ada, karena letaknya yang jauh dari peradaban. Jangankan pendidikan, listrik pun belum ada. Untuk mengajar Sugiyanto harus menempuh jalan 100 Km dengan sepeda motornya.

Jalanan yang licin, berbatu, berliku belum lagi harus menuntun motornya melewati jembatan licin dari kayu serta menyeberangi sungai dan motornya dengan bantuan rakit yang hanya terbuat dari bambu dan dibantu masyarakat setempat, membuat Sugiyanto harus ekstra hati-hati. Untuk sampai di tempat penduduk dusun Wambasalaheng desa Lele di mana di sana Sugiyanto mengajarkan ilmu yang dimiliki, harus ditempuh berjam-jam karena medan yang sulit. Bayangkan saja, berangkat dari pukul 8 pagi sampai tempat tujuan pukul 4 sore itu pun belum termasuk pulang-pergi.

Setibanya di tempat di mana Sugiyanto mengajar sudah di nanti dengan puluhan masyarakat mulai dari anak-anak , dewasa, dan orang tua. Semua semangat untuk belajar meskipun tempat yang digunakan berlantai tanah dan berdinding kayu keropos. Namun semangat merekalah kemudian yang membuat ruangan tersebut bercahaya.

Aktivitas Belajar Mengajar Sugiyanto di pulau Buru

Singkatnya, selama enam tahun jerih payah yang sudah dilakukan Sugiyanto membuahkan hasil dan tidak sia-sia. Hingga kini dirinya sudah memiliki lembaga PKBM Sari Arum kejar paket A sampai paket C di Waikasar pulau Buru. Kejar paket A setara dengan pendidikan SD dan paket C setara dengan pendidikan Sekolah Menengah Umum (SMU).

Kini tidak hanya di dusun Wambasalaheng desa Lele tetapi sudah menjamah ke daerah sekitar untuk pemberantasan buta huruf. Dari PKBM Sari Arum itulah kemudian digunakan untuk mendanai pendidikan, bekerja sama dengan pendidikan mitra. Dan sekarang PKBM Sari Arum sendiri sudah mengajarkan ketrampilan dalam bidang, perkebunan, pertanian, bengkel dan perternakan. Hingga tidak disangka-sangka dirinya memperoleh penghargaan tokoh inspiratif Indonesia dari Liputan 6 award SCTV di tahun 2012 sebagai seorang yang inspiratif kategori pendidikan.
******

Jika itu adalah kisah Sugiyanto, perkenankanlah ini adalah kisah saya. Dulu saya adalah seorang mahasiswa, sama seperti mahasiswa kebanyakan. Merantau pergi ke Jogja dengan tekad kuat sepulang kelak dapat memberikan kontribusi yang berarti untuk daerah tempat dimana saya dilahirkan.

Saya adalah orang Cirebon yang tinggal di pesisir pantai. Di daerah saya, sedikit sekali orang yang kuliah terlebih harus merantau jauh. Jumlahnya dapat dihitung jari. Kebanyakan dari mereka selepas lulus SMP ya menikah. Ini dikarenakan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sangat minim dan juga faktor ekonomi.

Dengan kuliah bukan berarti saya termasuk keluarga berada, jika diklasifikasikan keluarga saya termasuk menengah ke bawah serba pas-pasan. Maka saya sangat bersyukur sekali dapat melanjutkan sekolah di perguruan tinggi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sampai suatu ketika, saya diajak oleh teman saya bernama Muttaqien untuk ikut les komputer di Lembaga Pelatihan dan Keterampilan (LPK) e-FAC Sapen, Demangan, Yogyakarta.

Awalnya saya sama sekali tidak tertarik dengan dunia komputer dan internet. Jangankan tertarik membuat email dulu saja saya belum bisa, padahal sudah semester empat. Berbeda kondisinya dengan sekarang akses internet mudah, laptop harganya sudah turun hingga ada dengan harga 2,5 juta (itu pun boleh diangsur), modem bak kacang goreng, warung internet ada di mana-mana. Sehingga tidak heran banyak yang sudah familiar dengan internet. Tetapi karena saya ikut les lama-lama menjadi tertarik dan suka juga hingga sekarang.

Selama menjadi siswa saya aktif dan menurut pandangan pengajar saya dulu yaitu bapak Sujarwo, ST. MT (pendiri sekaligus direktur LPK e-FAC). Saya mampu dan menguasai materi yang disampaikan dengan baik. Hingga akhirnya kemudian saya dinyatakan lulus dengan mendapat sertifikat dengan predikat cumlaude (terbaik).

Sampai suatu ketika, pak Jarwo berhalangan mengajar kelas komputer karena ada keperluan pulang kampung mendadak di Brebes. Dia bingung mencari siapa yang bisa menggantikan selama beliau pulang tiga hari. Karena pak Jarwo menyimpan nomor handphone saya dan kenal kemampuan saya, kemudian saya ditawari menggantikan beberapa hari untuk mengajar di kelas komputer.

Sempat grogi dan belum percaya diri awalnya, namun dengan sungguh-sungguh saya mencobanya. Ketika selesai mengajar saya benar-benar dapat merasakan hati dan batin saya merasa senang sekali setiap selesai mengajar. Inilah mungkin oleh Rene Suhardono di bukunya yang berjudul Your Job is Not Your Career dengan istilah passion, keadaan di mana kita merasa asyik, enjoy, senang mengerjakan sesuatu, bukan karena paksaan tapi panggilan jiwa dan hati.

Steve Jobs orang nomor satu di Apple, Inc. semasa hidupnya juga pernah berkata "Ikuti kata hati dan fokus". Sampai akhirnya kemudian saya dipanggil lagi menjadi pengajar tetap di LPK e-FAC sejak bulan Maret 2009 hingga 2012. Dengan begitu jika dihitung berarti kurang lebih sudah tiga tahun-nan saya mengajar kelas komputer dan kelas internet. Dari situ kemudian saya ditawari untuk mengajar di beberapa LPK lain. Sering juga mengisi workshop dan pelatihan komputer-internet.

Dari kesenangan saya mengajar komputer dan internet saya kemudian coba-coba iseng menulis artikel di koran. Satu kali dua kali tidak kunjung dimuat, hingga akhirnya dimuat juga. Seneng? Pastinya. Hingga saya aktif menulis artikel di koran Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta khusus rubrik “Digital”. Beberapa artikel tersebut saya terbitkan di blog ini. Ada juga beberapa artikel di koran Suara Merdeka, Semarang rubrik “Konek”, dan bulletin CeKiDot Yogyakarta. Saya juga menulis buku terkait komputer-internet yang sudah diterbitkan oleh penerbit Andi Yogyakarta dan Elexmedia Jakarta.
"Siswaku yang dulu sama sekali belum paham perintah klik kanan sekarang mempunyai jasa internet. Luar biasa!" Gumamku dalam hati
Dari pengalaman saya mendidik, ada kebanggaan tersendiri ketika melihat anak didik atau siswa saya menjadi lebih baik dari saya sendiri, baik secara finansial atau kemampuan. Dulu saya mempunyai siswa yang bernama Dayat. Ketika dia masuk kelas komputer pertama kali, sama sekali dari nol belum mengerti apa itu komputer. Hingga pernah teman-teman lainnya menertawakan karena Dayat tidak mengerti perintah yang saya berikan. Sebuah perintah sederhana yang pastinya semua orang bisa dan mungkin Anda juga yang membaca artikel ini tertawa geli membacanya.

Saat itu saya memerintahkan, "Coba klik kanan pada pilihan menu yang ada". Dayat bingung dan diam karena tidak paham dengan perintah "klik kanan". Kemudian Dayat bertanya ke saya "Klik kanan itu yang mana ya, mas?"

Singkat cerita beberapa tahun kemudian Dayat menemui saya untuk berkunjung tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada saya seraya mengatakan sekarang sudah mempunyai bisnis internet broadband di rumahnya yang lokasinya berdekatan sekali dengan bandara Adisucipto, Yogyakarta.

Sebuah jasa internet berbasis Wi-Fi yang tersebar di lingkungan tersebut dan siapapun dapat menikmati fasilitas internet menggunakan Wi-Fi dengan syarat berlangganan dan berbayar tentunya ke Dayat. Saya pun diajak ke tempatnya dan dalam hati saya berdecak kagum "Siswaku yang dulu sama sekali belum paham perintah klik kanan sekarang mempunyai jasa internet. Luar biasa!" Gumamku dalam hati.

Tentunya Dayat tidak sendiri, dibantu temannya lulusan Amikom Yogyakarta. Namanya saya lupa. Sebuah kampus yang memang mengajarkan ilmu komputer. Tetapi Dayat tidak tergantung dengan temannya tersebut, dia hanya partner bisnis. Artinya Dayat pun secara teknis bisa menjalankan usahanya tersebut.
Lagi-lagi saya merinding dan tertegun diam sejenak, dulu dia tidak kenal bowser dan sekarang karena kenal browser bisa pergi ke Australia. Belum tentu temannya yang dulu menertawakan Wahyu sanggup pergi ke sana.
Satu lagi siswa saya bernama Wahyu Taufik berasal dari Bali. Dia pernah menjadi siswa saya di kelas internet. Kebetulan saya mengajar dua kelas, kelas komputer dan internet. Tahun lalu dia berkunjung dan mohon doa bahwa akan pergi ke Australia mengambil sastra Inggris. Tidak lupa juga mengucapkan terimakasih kepada saya.

Benar-benar kedua siswa yang berbakti karena ternyata tidak melupakan saya. Lagi-lagi saya terkejut dan kagum. Mengapa? Karena saya tau betul dulu Wahyu belum tau apa itu browser. Saat saya memberikan instruksi di kelas "Silakan buka browser Mozilla Firefox" Wahyu hanya diam dan bilang mana "Mana Mas Dede yang namanya browser itu" Hingga teman-teman yang lain menertawakan Wahyu.

Ketika saya tanya, "Kamu ke Australia dapat informasi dari mana?". Jawabnya, "Dapat dari internet Mas, ada program beasiswa kemudian aku coba-coba daftar dan alhamdulillah diterima dan dapat surat panggilan untuk belajar ke sana. Lagi-lagi saya merinding dan tertegun diam sejenak, dulu dia tidak kenal bowser dan sekarang karena kenal browser bisa pergi ke Australia. Belum tentu temannya yang dulu menertawakan Wahyu sanggup pergi ke sana.

Sampai saat artikel ini ditulis, baru dua siswa yang menurut saya sukses. Saya merasa senang benar-benar senang dan bangga. Karena apa? Keberhasilan seorang pendidik adalah ketika mampu membuat siswanya lebih baik dari gurunya. Saya mengetahui informasi ini karena mereka, karena mereka ingat saya dan berkunjung ke tempat saya di mana saya mengajar.

Saya tidak mengerti, apakah masih ada yang juga sukses seperti Dayat dan Wahyu namun saya tidak mengetahuinya? Dari kisah tersebut kemudian saya baru memahami sekarang, bahwa kunci seorang pendidik itu harus benar-benar mendidik dengan senang hati, dengan ikhlas, bukan hanya rutinitas belaka atau terpaksa. Harus ada yang namanya evaluasi setiap selesai mengajar untuk menutupi kekurangan diri dalam mendidik. Sehingga mendidik menjadi sesuatu yang sangat dirindukan dan siswa pun tidak jenuh atau mengantuk karena metode penyampaian seorang pendidik yang beragam.
******

Disadari bahwa tidak semua orang bisa menjadi pengajar. Tidak semua orang juga mampu berbicara di depan puluhan siswa. Namun, satu yang pasti semua orang memiliki keinginan. Dengan keinginan tersebut dapat menjadi pendidik sesuai kemampuan yang dimiliki. Apapun itu keahlian dan bidangnya. Apapun itu media yang digunakan pasti bisa. Berbicara mengenai media, semua pasti sepakat bahwa media yang cukup efektif untuk menjadi pendidik adalah internet. Dengan internet orang bisa saling berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Kecanggihan internet bisa menembus ruang dan waktu, menembus antar negara bahkan benua. Maka jika ini semua dilakukan oleh para guru atau dosen, kebodohan berangsur-angsur dapat terkikis khususnya di Indonesia. Minimal mereka yang tidak mampu kuliah dapat kuliah secara online.

Ini pun yang saya alami ketika dulu kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hanya satu dosen di antara banyak dosen yang berbagi kuliah menggunakan internet. Tidak hanya mahasiswa yang bersangkutan, tetapi siapapun dapat berpartisipasi mata kuliah fiqih dengan dosen pembimbing Arif Maftuhin. Adapun blog tersebut saat itu adalah http://kuliahfiqih.blogspot.com Dulu pak Arif pernah bercerita, bahwa saat belajar di Amerika hampir semua dosen di sana menggunakan blog untuk mengunggah materi, video, tugas, artikel dan sebagainya. Tujuan semua itu apa? yaitu semangat berbagi untuk mereka yang kurang mampu secara ekonomi tetapi ingin terus belajar.

Satu lagi orang yang sangat inspiratif di luar negeri yang patut diteladani bernama Salman Khan. Pendiri sekolah online terbesar dengan video tutorial matematika. Siapa yang rela mengundurkan diri dengan gaji 360.000 USD per-tahun atau Rp 3600.000.000 per-tahun di Wall Street, dengan perhitungan jika 1 dolar adalah Rp 10.000 rupiah. Dulunya Sal, panggilan Salman Khan bekerja di Wall Street. Suatu hari keponakannya meminta Sal untuk diajari matematika. Saat itu Sal, hanya menggunakan media Yahoo! dan program Microsoft notepad saja.

Sejak saat itu Sal kemudian berfikir bahwa kepintaran yang dimilikinya semua orang berhak memiliki tanpa syarat apalagi membayar mahal. Karena menurutnya tidak adil jika hanya mereka yang kaya saja yang mampu bersekolah. Sejak saat itu kemudian Sal, mengundurkan diri dan mendirikan sekolah online dengan nama Khan Academy yang juga dapat diakses melalui www.khanacademy.org.

Di sekolah online tersebut tercatat kurang lebih 35.000 orang pengunjung setiap harinya dengan total video tutorial matematika kurang lebih 18 ribu dibuatnya sendiri. Hingga dirinya memperoleh awards dari Microsoft, Inc. di tahun 2009 The Tech Awards 2009 Microsoft Education. Mungkin orang akan berkata "Salman Khan Gila!" melepas karirnya dulu dan memilih mendirikan Khan Academy. Jika dikatakan bahwa Salman Khan bodoh atau gila tidak benar, karena dirinya sudah memperoleh tiga gelar Bachelor of Science dari Massachussets Institute of Technology dalam waktu yang sama di bidang teknik listrik, ilmu komputer, dan matematika. Justru Salman Khan pintar dan cerdas.

Begitulah kenyataan ketika seseorang menemukan passion-nya. Menemukan kesenangan batin ketika bisa berbagi. Semangat berbagi ini yang membuat Salman Khan mengundurkan diri. Semangat berbagi ini juga yang membuat artikel ini panjang. Untuk dari itu temukan passion-mu, amalkan ilmu di masyarakat, gunakan media, niscaya dengan semangat berbagi dengan semangat mendidik banyak manfaat yang dirasakan oleh orang lain. Salam blogger. ● Dede Ariyanto

14 komentar:

  1. Cerita yang bagus sekali mas... Emang terkadang kita gak tau bagaimana rencana sang pencipta... Terus saya juga merinding ketika membaca beberapa bagian dari tulisan mas...

    BalasHapus
  2. @ Just Nanda:
    Trimakasih mas udah mau mampir dan baca artikel yang panjang ini. Salut ^_^

    BalasHapus
  3. saya suka membaca tulisan yang runut dan panjang. apalagi kalau ditulis dengan bagus, ga akan membuat yang membaca bosan dan berhenti membacanya. tulisan ini salah satunya. mungkin karena nulisnya pakai 'passsion' juga kali ya.

    terima kasih sudah berbagi. dan semoga sukses dalam kontesnya.

    BalasHapus
  4. @ kamal:
    Trimakasih sudah berkunjung dan mau membaca tulisanku yang panjang ini. Salut. Sebab setau saya jarang ada yang mau membaca tulisan panjang ini hingga tuntas. Saya senang sekali jika tulisanku dibaca tuntas. Bahagia rasanya tak terkira bisa berbagi.

    Amin, mohon doa nya yah, semangat berbagi ini yang membuatku semangat untuk terus menulis. Saya juga merinding jika membaca tokoh inspiratif lainnya..Masih banyak tokoh inspiratif lainnya di dunia ini. Semoga kita semua khususnya yang berprofesi guru atau dosen jadi terinspirasi. Sekali lagi trims.

    BalasHapus
  5. Sayang banyak wanita yang malu dan tidak mau kalo harus menjadi "pendidik bagi anak2nya dirumah"

    BalasHapus
  6. @ Sugiantoro:
    Lupa saya menampilkan sosok wanita sebagai pendidik dalam keluarga, padahal ibu itu sejatinya guru pertama bagi anak-anaknya.
    Trims

    BalasHapus
  7. Menurut saya pendidik itu bukan hanya berfikir pada current oriented (masa sekarang saja) tapi pendidik itu berfikir future oriented (berfikir masa depan) sehingga siapapun yang berfikiran demikian akan berupaya berjuang mewujudkan harapannya, dimana kreativitas, inovasi, visioner yang dibutuhkan sehingga mampu berdiri pada iklim yang turbulence dan berubah setiap saat. (terimakasih telah mengunjungi blog saya akan senang lagi kalo Anda juga memberikan komentar,saya tertarik belajar program komputer dan belajar menulis dari Anda).Sukses dan ceria selalu bung Dede Ariyanto:)

    BalasHapus
  8. @ Erick Gafar:
    Trimakasih mas, amin. Senang sudah dikunjungi sama sobat yang juga aktif nulis di Kompasiana ini :)

    @ Poetry:
    Trims mbak sudah baca dan berkunjung, sepakat dengan future oriented yang sudah dikemukakan mbk Poetry :)

    BalasHapus
  9. artikel yang sangat baguus mas..
    bisa jadi motivasi juga niih :D

    BalasHapus
  10. nice article...
    sayangnya pendidikan bagus makin langka, yang ada bagus identik dengan mahal..
    kasus yang Sy temui berkebalikan dengan cerita Pak Sugiyanto di artikel Mas Dede, ada fasilitas namun siswanya ga passion untuk belajar alhasil sering Sy mengajar dengan hanya 1/4 kelas yang datang..
    ^^ terselip doa bagi murid2 Sy tersebut, smg kalian sukes, juga buat mas Dede

    BalasHapus
  11. Tetaplah dalam keadaan di mana kita merasa asyik, enjoy, senang mengerjakan sesuatu, bukan karena paksaan tapi panggilan jiwa dan hati. SEMANGAT

    BalasHapus
  12. Inspratif Mas, satu Hal yang saya tangkap dari nasehat2 yang mas Sampaikan adalah keyakinan tehadap Passion utk terus dikembangkan dan memberikan kebermanfaatan terhadap sesama (Ferri AR)

    BalasHapus
  13. @ Ahmad Toha:
    Alhamdulillah jika bisa memotifasi mas Toha. Trims

    @ Dina:
    Oh so sweet, memang kadang-kadang saya juga heran. Terkadang fasilitas yang serba "wah" membuat siswa malas padahal seharusnya memotivasi lebih. Di sisi lain, siswa yang berkekurangan hingga ke sekolah saja menggunakan sandal jepit tetapi masya Allah, semangatnya kaya orang mau perang.

    Oh yah. Jadi Mbk Dina juga seorang Guru yah? Meskipun 1/4 siswa tapi amazing yah tetap mendoakan siswa. Guru yang jarang sekali menurutku yang sekarang ditemukan, karena kenyataan yang ada banyakan malah guru kecewa atau mungkin sedikit marah. :)

    @ Uto Wanda:
    Betul apa yang dikatakan Mbk Youwanda :)

    @ ferri_berbagi:
    Kira-kira begitu, tergantung persepsi si pembaca. Alhamdulillah jika sudah bisa menginspirasi, segera temukan passion fokus dan ikuti kata hati, karena dia tidak mungkin berbohong ^_^

    BalasHapus
  14. Udah keliatan dari penampilannya mas dede emang cucok banget jadi pengajar. Beberapa teman saya byk yg passionnya mengajar dengan titel berderet. Itulah passion ga pandang byknya titel klu suka ya dikerjakan. Inspieatif banget tulisannya...

    BalasHapus

Terimakasih sudah turut berpartisipasi di blog ini dengan cara menulis komentar. Komentar yang berisi iklan, sara, pornografi dan spam terpaksa dihapus! :)

Search

Social Media

Facebook Twitter Instagram YouTube Google+ e-Mail

Komunitas Blogger

Blogger Reporter Indonesia



Fun Blogging


Warung Blogger


BloggerCrony Community

Karya Buku





Cuit-Cuit Yuk!